Sunday, October 25, 2009

MASLAHAH MURSALAH


Pada dasarnya hukum syara' itu disyari'atkan untuk mewujudkan maslahah terhadap seorang hamba, baik di dunia atau akhirat, yang teraplikasi dalam tiga bentuk, pertama, Dhoruriyat yang mencakup penjagaan terhadap agama, jiwa, harta, akal, keturunan dan harga diri. Kedua, Hajiyat dan yang ketiga adalah Tahsiniyat. Tiga hal di atas diberi nama “Maqasidu al-Syara’”.

Terkait dengan Maslahah yang memotori wujudnya hukum syari’at ulama’ mengatakan bahwa maslahah itu akan terus berkembang sepanjang dunia ini masih ada, maslahah itu juga berbeda-beda meninjau kultur atau budaya yang juga berbeda-beda. Namun dari sekian maslahah yang ada dan keberagamannya, ulama' membaginya dalam dua bagian, pertama, Maslahah Mu'tabarah, yaitu maslahah yang untuk mewujudkannya syare' mensyari'atkan hukum tertentu, seperti pengharaman minum khamer, untuk mewujudkan maslahah tertentu, yaitu menjaga akal. Atau maslahah yang dianggap oleh syare' sebagai illat dari hukum tertentu sebagaimana contoh diatas. Kedua, Maslahah yang untuk mewujudkannya syare' tidak menciptakan sebuah hukum, atau maslahah yang tidak ada ketentuan dari syara' apakah pantas menjadi illat sebuah hukum atau tidak, seperti pensyari'atan surat bukti dari KUA untuk menetapkan setatus suami istri. Maslahah dengan model ini diberi nama "Maslahah Mursalah".

Maslahah Mursalah Sebagai Hukum Syara'

Kebanyakan ulama' mengatakan bahwa Maslahah Mursalah adalah Hujjah Syar'iyah yang dibangun untuk mewujudkan hukum syari'at sebagai langkah alternatif ketika dalam satu permasalahan tidak ada penegasan dalil baik dari Nash, Ijma', Qiyas, dan Istihsan, meninjau adanya maslahah yang menuntut tanpa harus menunggu apakah maslahah tersebut dianggap atau tidak.

Ada dua alasan sebagai argumentasi kenapa mereka menjadikan Maslahah Mursalah sebagai salah satu dalil syara'. Pertaman, berdasarkan dzatiyah maslahah itu sendiri. Mereka berpandangan bahwa maslahah itu tidak akan pernah berhenti bahkan akan terus berkembang meninjau tuntutan zaman yang makin berkembang dan adanya budaya atau kultur yang bereda. Karena itu tidak perlu adanya rekomendasi tertentu yang tergambar secara eksplisit dari syari'at kalau hanya untuk mewujudkan hukum syari'at, yang penting ada maslahah, dan maslahah tersebut tidak harus berbentuk maslahah mu'tabarah sebagaimana yang sudah saya sebutkan diatas. Hal ini sebagai wujud adanya syri'at islam yang selalu sesuai dengan tentutan zaman, karena kalau untuk mewujudkan hukum harus selalu ada maslahah yang berbentuk maslahah yang saya sebutkan diatas, maka syari'at ini nampak kurang memenuhi tuntutan zaman, dan ini tidak cocok dengan adanya islam itu sendiri yang menjadi solusi ummat. Kedua. Bedasarkan penelitian. Artinya kalau kita mau meneliti pensyari'atan hukum dari para ulama', baik para Sahabat, Tabi'in dan para Mujtahid, maka kita akan menemukan bahwa mereka mencetuskan hukum tertentu kebanyakan berdasarkan maslahah secara mutlak, dan untuk mewujudkannya mereka tidak menunggu perekomendasian terlebih dahulu, apakah maslahah itu dianggap atau tidak.

Lihat Sy. Abu Bakar yang mengumpulkan Mushaf menjadi satu, memerangi orang-orang murtad, dan menjadikan Sy. Umar sebagai pengganti beliau. Lihat Sy. Utsman yang mengumpulkan mushaf dalam satu bacaan dan membakar mushaf-mushaf yang lain. Lihat Sy Ali, yang membakar orang-orang sesat dari kalangan Syi'ah dan Rafidhah. Lihat Imam Hanafy yang melarang Mufti yang tidak tau malu untuk berfatwa, dan melarang dokter yang tidak mahir untuk mengobati. Lihat Imam Malik yang memperbolehkan memenjara orang yang disangka perampok atau pencuri atau menta'zirnya agar mereka mau mengakui kesalahannya dan lihat Imam Syafi'ie yang mewajibkan Qishas atas semua Jama'ah yang membunuh satu orang. Ini semua adalah contoh-contoh yang bila kita mau mencermatinya, maka kita akan menemukan bahwa mereka mencetuskan hukum tertentu hanya berdasarkan maslahah, tanpa menunggu apakah maslahah yang dibuat tersebut dianggap atau tidak oleh syara', karena itu Imam Qarafi berkata "Sesungguhnya Sahabat mencetuskan suatu perkara karena adanya tuntutan maslahah secara mutlak". Imam Ibnu Uqail juga mengatakan bahwa politik merupakan sesuatu yang dapat menciptakan kemaslahatan ummat, karena itu harus diterapkan walaupun belum pernah dilegalkan sebelumnya oleh Rasul SAW.

Syarat-Syarat Maslahah Mursalah Sebagai Hujjah.

Pada dasarnya ulama' sangat berhati-hati untuk menjadikan Maslahah Mursalah sebagai dalil syara' karena itu tidak benar kalau maslahah mursalah tersebut dikatakan Tasre' Bil Hawa. Sebagai bukti dari kehati-hatiannya, mereka membatasi maslahah mursalah tersebut sebagai dalil syara' dengan tiga batasan sebagai syarat.

1. Maslahah tersebut harus benar-benar wujud(Maslahah Haqiqiyah Wa laisa Wahmiyah). Artinya dalam mensyari'atan hukum seorang ulama' harus yakin kalausanya maslahah yang dijadikan pegangan mereka benar-benar ada.

2. Maslahahnya adalah maslahah umum, bukan maslahah peribadi. Artinya pensyariatan hukum yang berdasarkan maslahah tersebut tidak hanya dapat dirasakan satu orang, bahkan dirasakan orang secara kebanyakan atau menyeluruh.

3. pensyari'atan hukum yang bedasarkan maslahah tersebut tidak bertentangan dengan hukum yang berdasarkan dengan Nash atau Ijma'. Karena itu tidak sah menyamakan anak laki-laki dengan perempuan dalam warisan walaupun terdapat maslahah, karena ini bertentangan dengan Nash. Contoh lain adalah fatwa yang dilakukan oleh Imam Yahya Bin Yahya, yang mengatakan bahwa raja Andalus pada saat itu yang makan di siang hari Ramadhan karena sengaja tidak wajib Qada' dan Kafarat karena adanya maslahah yang menentut. Fatwa ini adalah fatwa yang tidak bisa dibenarkan karena bertetntangan dangan Nash, walaupun terdapat maslahah.

Dalil pengingkar Maslahah Mursalah.

Ada dua dalil kenapa mereka, sebagian ulama' mengingkari keberadaan Maslahah Mursalah tersebut. Pertama, syar'at itu memang menjaga kemaslahatan manusia namun acuan maslahah tersebut harus kembali pada Nash syari'at atau Qiyas terhdapa Nash. Syare' juga tidak akan membiarkan menusia tanpa guna dan membiarkan maslahah tanpa ada petunjuk darinya, karena itu tidak ada maslahah kecuali sudah ada penyaksian dari syara', dan maslahah yang belum diketahui apakah dianggap atau tidak pada dasarnya itu bukan muslahah(Maslahah Hakikiyah)bahkan termasuk maslahah yang masih diragukan(Maslahah Wahmiyah). Kedua, mensyari'atkan hukum dengan kemutlakan maslahah itu memberi peluang seseorang untuk menghukumi suatu permasalahan dengan hawa nafsu mereka, dari Amir, penguasa dan Mufti, maka mereka akan mereka-reka suatu yang sebenarnya bukan maslahah untuk dijadikan maslahah, karena itu membuka pintu untuk mencetuskan hukum syari'at hanya berdasarkan kemutlakan maslahah itu berarti membuka pintu kejelekan.

Namun sebenarnya kalau kita lebih teliti lagi, maka kita akan mengunggulkan ulama' yang menjadikan Maslahah Mursalah sebagai salah satu dari dalil syara’. Dari dalil yang pertama nampak jelas bahwa mereka pengingkar sebenarnya kurang paham kalau mereka yang pro sangat berhati-berhati untuk menentukan maslahah yang mau mereka jadikan dasar pencetusan hukum, sehingga nantinya hukum yang mereka cetuskan tidak mungkin berdasarkan hawa nafsu mereka. Dan lagi kalau seandainya maslahah mursalah ini tidak boleh untuk dijadikan hukum syari'at, maka hukum syari'at itu akan beku dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, dan ini tidak sesuai dengan esensi islam itu sendiri, yang menjadi "Solusi Ummat". Wallahu a'lam Bi al-Shawab.


Referensi : Ilmu Ushulil Fiqh Li Abdul Wahhab Khallaf.



Saturday, October 24, 2009

KISAH SEDIH MENUJU MESIR

Hari itu adalah hari besar bagiku. Hari itu aku beri nama “ Hari Musibah “, karena pada hari itu aku tertimpa dua musibah yang tidak mungkin aku lupakan selamanya. Pertama aku tidak besa berangkat ke Mesir bersama teman-teman dari Depak, karena minimnya tempat duduk dipesawat. Sebenarnya ada tempat duduk, satu, tapi husus bagi kariawan dipesawat. Tempat itu diperkenankan untuk aku tempati, hanya saja dengan imbalan tiket sebesar delapan belas juta. Akhirnya pengerus dipondokku membeli tiket lain yang berangkat keesokan harinya setelah keberangkatan teman-teman Depak.

Berangkatlah aku ke Mesir dengan tanpa orang yang mau aku pijaki. Pada saat itu aku seperti orang yang kehilangan singgahan tidak tahu harus kemana dan dibawa kemana. Tapi “Bismillahi al-Rahmanirrahim”, itulah pijakanku pada saat itu, dan keyakinanku pada Allah. Tenanglah hatiku. Allah telah memberikan sebuah kekuatan keyakinan kalau aku pasti akan sampai ke Mesir.

Dipesawat aku rasakan kesendirian, kebingungan, kulihat kedepan tempat dudukku terus menerus. Disana ada dua cewek sedang bercakap-cakap penuh tawa, ria. Lega hatiku, bukan karena aku lihat dua cewek itu cantik, anggun dan manis, karena pada saat itu aku tidak bisa menemukan kecantikan pada diri siapapun, semua bagiku sama, yang cantik bagiku adalah Mesir, tempat awal tujuanku “ Menuntut Ilmu “, tapi karena aku melihat kalau gerak girik cewek itu adalah orang yang satu tujuan denganku, yaitu menuntut ilmu di Mesir.

Aku pingin sekali kanalan sama mereka, tapi aku takut cewek itu punya tanggapan lain akan perkenalanku samanya, disamping itu aku sudah berjanji sebelum aku berangkat ke Mesir untuk menghapus semua nama cewek dalam agendaku. Pada saat aku menimbang-nimbang untung ruginya kenalan sama mereka. Sampailah pada sebuah keputusan, yaitu berkenalan.

Sebelumnya aku masih bingung untuk memulai perkenalan itu. Aku cari berbagai macam cara agar aku tidak terkesan main-main. Sebelum sempat aku mengutarakan perkenalan, salah satu dari cewek itu menoleh kebelakang, tepat sasaran ditempat dudukku, sambil tersenyum, tak terpengaruhlah hatiku pada saat itu. Dia mau meminjam alat pendengar yang kebetulan tidak aku pakai, mau dipakai gimana aku gak tahu cara ngidupin TVnya, gaptek banget aku pada saat itu. Sedikit aku tersenyem aku diriku tersebut.

Tanpa memikirkan itu semua, aku gunakan kesempatan itu untuk berkenalan padanya saraya memperkenalkan diri

“ Ahmad ”Namaku “ Ahmad, embak siapa?

“ Tina “ namaku tina, ( nama samara ) aku dari aceh.

“Ahmad” mau kuliyah Bak?

“Tina” ia

Ahmad “ Kemana ?

‘ Tina “ ke Maroko. Kebetulan memang pada saat itu Depak memberangkatkan siswa yang mau ke Maroko dan ke Mesir. Aku akhiri perkenalan itu dengan sebuah kekecewaan.

Kembali aku merenung murung memikirkan akan nasibku nanti, apakah aku akan sampai atau akan jadi orang jalanan ?.

pesawat mendadak bergetar gak tau kenapa. Ternyata dia mau mendarat. Rupanya aku sudah sampat di Malaisiya. Aku berkata dalam hatiku “Malaisiya kok dekat banget dengan Indonesia”.

Turunlah aku dari pesawat dengan hati berdebar-debar. Ada rasa hawatir menghantuiku, terkait dengan perlengkapan persyaratan pergi keluar negri, baik yang terkait dengan Visa Paspor dan lain sebagainya. Waktu itu aku tereingat kejadian yang menimpa 29 santri Banten yang terlantar di Mesir dan santri-santri lain yang perjalanannya terhenti di Malaisiya, dikarenakan persyaratan yang tidak mereka penuhi.

“Tak seperti biasanya kita masih turun dari Pesawat” terdengarlah kata ini dari sebagian penumpang. “kalau dulu penumpang yang tidak turun di Malaisiya tidak diperkenalkan turun dari pesawat”, kudengar sebaian komentar dari mereka ke yang lain. Tak ambil pusing duduklah aku dikursi yang disediakan di Bandara Malaisiya setengah jam sebelum melanjutkan perjalanan. Kebetulan disampingku ada seorang cewek. Dia Nampak seperti TKW entah mau kerja dimana, tapi yang pasti bukan di Malaisiya. Cewek itu Nampak dewasa sekali. Maklum tampangnya udah agak tua, maksudnya lebih tua dari aku, mungkin sekitar umur tiga pulihan gitu.

Kunikmati perenungan kembali, dengan sedikit ada sesak di dada karena rasa hawatir tadi. Kira-kira lima menit, cewek yang berada disampingku tadi merusak lamunanku. Dia menanyaiku seputar keganjilan trasansit tersebut. dia berkata “Dik kalau dulu kita gak usah teransit disini ( Malaisiyah )”. “Oh gitu Bak” aku menimpalinya. “Mungkin ada pemeriksaan dan mungkin ini lebih diperketat” perempuan tadi melanjutkan pembicaraannya. “iiih menakutkan sekali” aku bergumam.

Ku tarik nafasku panjang-panjang, untuk melenturkan cemas yang makin menggerogoti pikiranku. “Astagfirullah” aku terhentak mendengar panggilan kalausanya semua penumpang harus bersiap-siap untuk meneruskan perjalanannya kembali. Sebelum meneruskan perjalanan petugas diloket Bandara masih memeriksa Tiket dan Paspor. Tobur panjang sekali, tapi Alhamdulillah aku berada dideretan agak depan. Dedepanku ada lima orang, yang kelihatannya sangat tegar, tenang gak seperti aku yang masih terus dek dekan. Sampailah kebagianku. Petugas itu meminta Tiket dan Paspor dengan bahasa inggris, namun aku bisa memahaminya, karena dia sambil menggulurkan tangannya meminta agar aku menyerahkannya. Kebetulan petugasnya perempuan putih, cantik lagi. Tapi tak adalah pengaruh sedikitpun akan kecantikannya. Alhamdulillah aku selamat dari musibah. Berjalanlah aku menuju pesawat kembali. Sepuluh menit kemudian berangkatlah pesawatku.

Kini aku benar-benar sendiri, teman dudukku sudah turun di Malaisiya. Sementara penumpang yang lain ku anggap gak ada, karena aku gak bisa ngomong ma mereka. Tiba-tiba kulihat seorang laki-laki Nampak matanya sipit. Aku kira dia orang cina, menghampiri aku. Ternyata dia mau duduk didekatku. Tanpa ragu keperkenalkan diri. Ternyata dia orang Singapor. Dia bisa berbahasa Inggris Malaisiya dan sedikit bahasa Indonesia. Kini aku sudah punya teman duduk yang bisa untuk diajak bersanda. Dia sungguh baik sekali mengajari aku mengoprasikan TV yang ada didepan pas tempat dudukku. Dia juga yang memintakan makan pada Pramugari. Dia juga yang menerjemahkan setiap tawaran Pramugari tersebut. cantik sekali ku lihat Pramugari itu, tinggi dan putih. Sedikit aku sudah mulai bisa komentar. Ada sedikit ketenangan. Tapi apalah arti semua itu. Pramugari emang cantik-cantik. “Ya kelasnya internasional sich” aku bergumam dalam hatiku. “Ya gak mungkinlah orang-orang rumahku diterima jadi Pramugari” Ku komerntar sendiri mengenahi keberadaan orang-orang dirumahku.

Pada saat itu aku merasa berdosa, karena aku harus menurut kata nafsuku mengomentari Pramugari tersebut. aku teringat firman Allah yang menjelaskan bahwasanya ketika sedang lagi ada masalah kita kembali padaNYA namun ketika masalah itu hilang kita lipa diri. “Astagfirullah” ku lafadzkan seruan taubat berkali-kali. Malam sudah tiba. Kulihat keluar Nampak gelap sekali, tak bisa aku melihat apapun. Orang-orang sudah pada tidur. Teman yang disampingku juga pada tidur, dia menutup mukanya dengan sapu tangan. “mungkin dia lagi capek gak mau tuk diganggu” aku berfikir. Malam itu aku gak bisa tidur, gelisah sekali. Aku gak tahu gimana nanti setelah pesawat ini mendarat kembali di Doha ( Bandara di Qatar )? apa yang akan menimpaku nanti? Sampaikah aku ke Mesir? Pertanyaan it terus berputar dalam otakku. Sampailah aku pada sebuah jawaban yang mengilhamiku.

Aku teringat pesan Bapak Haji Mahmud sewaktu aku di kantor DPD. Beliau mengatakan bahwa kita semua pasti akan sukses dengan satu kunci “Takwa”. Kebetulan pada saat itu ada kumpulan para alumni Pondok Sidogiri yang sedang melaksanakan program kerja kedepan para alumni. Pesan itu terus tergambar dalam benakku, dan meyakinkan aku sampai ke Mesir. Tenanglah aku kembali. Akhirnya aku terlelap bersama heningnya malam.

Pas jam delapan pagi sampailah aku di Doha ( Bandara di Qatar ) aku berjalan mengikuti yang lain menuju ke dalam Bandara. Kulihat mereka semua sama-sama punya gandengan, maksudnya teman ngomong, hanya aku sendiri yang berjalan bertemanan dengan tanah yang ku injak langit yang menaungi, waktu itu aku menoleh kelangit seraya bertanya pada diriku sendiri “Ada apa ya di atas langit”. Ku terus masuk ke Bandara gak tau harus kemana, aku hanya mengikuti mereka yang tidak aku tunjuk untuk menunjukkan aku jalan. Pas didepan tangga aku melihat dua cewek yang pernah aku kenali dipesawat. Kulihat mereka lagi kebingungan mencari jalan tempat istirahat, tapi apalah pedulilku, aku juga lagi bingung pada saat itu, gak mungkinlah aku sok tahu memberi jasa nunjukkin dua cewek tersebut. walaaah malah cewek itu datang menghampiriku menanyai tempat istirahat, akupun bilang terus terang kalau aku juga lagi bingung. Tiba-tiba datang cewek setengah baya menghampiri kita semua, menunjukkan jalan tempat istirahat. Alhamdulillah aku bisa istirahat menunggu keberangkatanku kembali ke Mesir 5 jam lagi. Kulihat tempat duduk pada kosong tak terisi, hanya ada satu cewek gak tau dia dari mana, tapi yang jelas dia orang luar negri. Aku duduk disampingnya merebakan punggungku ketempat duduk.

Kulihat cewek itu menimang-nimang Paspor dan tiket yang warnanya sama dengan tiketku, tapi tiket dia udah di oret-oret, berbeda dengan tiketku yang masih bersih kosong dari oretan. Aku jadi bingung takut tiketku harus disamakan dengan tiket cewek tersebut. akhirnya aku menghampiri petugas di Bandara tersebut, aku bermaksud menanyakan seputar tiketku. Tapi apalah arti semua itu, aku gak ngerti bahasa mereka.

Akhirnya aku duduk lagi ketempat dudukku yang semula. Akupun memberanikan diriku untuk kenalan sama cewek tersebut. “inilah cikal bakal musibah kedua yang menimpaku” , siapa tau dia nanti mau memberikan jasanya membantu menghilangkan kebingunganku. Ternyata cewek itu orang Pilipina. Aku tahu dari paspornya karena pas aku mau memperkenalkan diri dia ngasih paspornya. Dia mengaku kerja di negari Arab entah dimana aku udah lupa. Dia mau pulang kenegaranya. Kulihat dia baik sekali, akhirnya aku keluarkan tiketku, aku ceritakan semua perjalananku. Dia Nampak iba, entah apa dia Cuma bersandiwara untuk mngelabuhiku. Akhirnya cewek itu mengajak aku makan. Aku senang sekali karena dia baik sekali padaku. Dia bilang kalau dia yang mau bayarin, tapi dia meminta tiketku untuk diperlihatkan kepetugas yang memberikan makanan. Kemudian cewek itu mendatangi petugas yang lain entah dia petugas apa aku gak tahu. Cewek itu meminta uang padaku sebanyak lima dolar, akupun memberikannya karena aku pandang dia lebih tahu kemaslahatanku pada saat itu. Pokoknya aku turuti semua yang dia katakan dengan bahasa yang tidak jelas karena antara kita saling tidak memahami bahasa satu sama yang lain, tapi pada saat itu kita menggunakan bahasa isyarah.

Kembalilahlah aku ketempat semula, duduk sambil sanda. Aku ambil HPku yang kebetulan pada saat itu ada ditempat dimana semua uangku ada disitu. Cewek itu melihatnya, tapi sedikitpun aku tidak punya rasa curiga. Akhirnya aku ambil haedsetku dengarin musik. Cewek itu memintaku dengarin musik bersama, akhirnya aku kasih salah satu alat pendengarnya ke dia, kita dengarin musik bersama.

“Astagfirullah” aku lantunkan kata itu kembali. Aku baru menyadari kalau aku lagi berduaan sama cewek yang bukan mahramku, kebetulan memang saat itu Bandara dibagian tempatku lagi sepi. Aku bertanya pada diriku sendiri “Apakah pada saat yang seperti ini aku boleh berduaan sama cewek dengarin music bersama”. Sungguh aku luluh didepan cewek tersebut aku seperti tersihir olehnya. Aku nurut semua apa yang dikatakannya. Sebenarnya aku sempat punya pikiran jelek padanya tapi semuanya aku tepis.

Berapa menit kemudian aku lihat cewek itu memegang saku celananya dan mengutak atik tasnya. Dia Nampak seperti kebingungan. Kulihat wajahnya memerah. Kulihat dia dengan mata meneliti. Akhirnya aku menanyakan dia:

Aku, hai ada apa?

Cewek, uangku hilang semua sambil menyodokan amplop tempat uangnya ditaruh. Gimana aku nanti pulang? Melanjutkan ngomongnya. Uangku semua sudah habis. Ini gimana?

Akhirnya aku menawarkan untuk mencarinya. Kucari uangnya bersamnya kelilinng bandara “Capek sekali rasanya”. Kembalilah aku ketempat duduk semula. Cewek it terus mengangis. Tak selang kemudian cewek itu meminta uang dolarku. Aku terkejut sekali atas permintaannya yang aneh itu. Dia terus merintih memaksaku agar memberikan uangku, akhirnya aku mengeluarkan uang dolarku sepuluh dolar, namun dia gak menerimanya, katanya sepuluh dolar gak cukup. “Terus kamu mau minta berapa” aku bertanya padanya. “Seratus Dolar” terperanjaklah aku dari tempat dudukku, terkejut dengan permintaannya aku, bergumam “Ni orang minta tapi kok narget”. Aku diam lama sekali dalam pertimbangan, apa cewek ini penipu atau benar-benar minta bantuan?.

Setengah jam kemudian ku berikan uangku seratus dolar dengan berat sekali sambil bergumam kembali “Ya Allah uang ini ku berikan dengan iklas padanya, kamu adalah saksinya, sukseskanlah aku dengan kebaikan ini untuk sampai ke Mesir” akhirnya cewek itu mengeluarkan perhiasan yang disimpannya, aku dikasih dua anting. Sebelumnya aku minta perhiasan itu seharga dolar yang kukasihkan, tapi dia gak mau memberikan, malah dia memberikan janji untuk mengganti uangku “nanti mau di trasferin” katanya bodoh sekali aku menerima tawarannya, mau ditransferin kemana?

Selang beberapa datang rombongan orang-orang beraut Arab ada satu duduk disampingku, seorang laki-laki baya. Umurnya sekitar enam puluhan, namun dia Nampak segar. Aku udah gak lagi canda ama cewek tadi karena aku sedikit kesal. Akhirnya aku kenalan ma orang itu, ternyata dia orang Mesir lagi perjalanan mau ke Mesir “Alhamdulillah” keluar reflek dari mulutku. Dia baik sekali. Akhirnya aku ceritakan kejadian yang menimpaku, kuberikan dua anting padanya, dia Nampak seperti ragu akan keaslian dua anting itu akhirnya dia menanyakan keteman2nya, dan ternyata dua anting itu palsu. Dari situ aku sadar bahwa aku telah ditipu. Akhirnya ku noleh ketempat duduk cewek itu dan ternyata dia sudah tiada. Aku masih melihatnya mau aku kejar tapi orang mesir itu gak member izin seraya berkata “Udah dik gak usah dikejar nanti kamu sendiri yang bahaya” fasih sekali orang Mesir itu berbahasa Indonesia. Akhirnya aku lihat tempat uangku yang lain ditasku. Ternyata lenyaplah semua uangku. “Astagfirullah mati aku”. Aku mengadu pada orang mesir tersebut. Alhamdulillah dia menyabar-nyabari aku. Dan akhirnya berangkatlah pesawatku ke Mesir.

Dan sampailah aku di Mesir dengan selamat, kulupakan semua kejadian yang menimpaku, karena kebahagiaan yang tak terhingga, yaitu sampai ke Negri Kinanah Mesir.

Selamat menuntut ilmu di Mesir.

Cerpen

1. DALAM PENANTIAN

DALAM PENANTIAN

“Assalamu Alaikum”.Begitulah kebiasaan Ahmad memulai tegur sapa kepada sesama rekan-rekan di kantor tempat kerjanya. Kantor PPMI. Salah satu kantor pusat pemerinatahan Indonesia yang ada di luar negri(Mesir). Kebetulan kantor tersebut belum ber AC dan tidak ada kipas anginnya, ma’lum masih baru, karena itu Ahmad harus melepas bajunya sebagaimana rekan-rekan lainnya, karena udara yang sangat panas.

“Udah selesai Lukisannya”. Pertanyaan awal yang keluar dari Ahmad kepada rekan barunya Mahmud. Kebetulan keduanya menjadi salah satu panitia pelatihan”Karya Tulis Ilmiyah” bagian Dekorasi dan Dokumentasi. Di situ juga ada dua rekan lainnya, yaitu Murniati, cewek bercadar dan Maimunah.

“Setengah jam lagi”. Mahmud menjawab pertanyaan Ahmad sambil mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya seraya berkata”Ooh kamu yang namanya Ahmad”. Ahmadpun tersenyum sembil menganggukkan kepala. “Nanti kita tinggal gunting kok”. Mahmud melanjutkan pembicaraannya.

Selesailah pekerjaan Mahmud, tinggal langkah selanjutnya, yaitu menggunting lukisan yang udah jadi. Maunya mereka langsung mengerjakannya di kantor PPMI tersebut, namun Presiden PPMI tidak mengizinkan”Aku ingin kantor ini tetap terlihat rapi, apalagi di pagi hari” Kata bapak Presiden, kebetulan saat itu jam 8 pagi. Bapak Presiden memerintahkan mereka berdua untuk bekerja di kamar tempat tidurnya, kamar kecil yang panas dan tidak ber AC.

Jam 9 mereka memulai kerjanya, menggunting setiap lukisan sambil menunggu 2 rekan cewek mereka yang belum jelas kapan datangnya. “Ehm”. Mahmud berulah sambil ketawa entah dia mau apa, Ahmad cuek tak perduli, dia fokus terhadap kerjanya, ma’lum dia adalah anak yang rajin dan sangat bertannggung jawab. “ Aduuh panas nich”. Mahmud melanjutkan permainannya. Kayaknya dia lagi menyindir seseorang. Kebetulan di kamar itu ada tiga orang, Ahmad, Mahmud dan satu anak yang agak hitam. “Ni uang beli es dan camilan” salah satu teman tadi ngomong kearah Mahmud sambil tersenyum. “Mad ni bendahara kita Roni, kalau kamu perlu sesuatu minta kedia”. Mahmud berkata pada Ahmad sambil nyengir seraya memperkenalkan Bendahara tersebut. kebetulan Mahmud sudah kenal akrab ama dia.

Tiga jam mereka bekerja, tiba-tiba HP Mahmud berbunyi, tanda ada telpon masuk, Mahmudpun menerimanya. Kira-kira lima jam dia ngomong dengan rekannya dalam telpon, entah dia ngomongin apa, entah juga siapa rekannya tersebut. “Mad 2 rekan cewek udah datang”. Mahmud tersenyum mengabarkan kedatangan 2 rekan ceweknya.

“Brak” pintu kamar terbuka, kebetulan agak rusak. “Eh Ahmad, Mahmud kalian kerjanya pindah kelantai atas saja, di sini sempit 2 rekan kalian sudah datang” suara dari arah pintu kamar. Ternyata dia katua panitia pelatihan. Mereka akhirnya beres-beres memasukkan sampah-sampah kecil potongan kertas lukisam ke plastik kecil dan memasukkan alat-alat lukis ke plastik kecil lainnya menuju tempat yang ditunjuk ketua panitai mereka.

Sampailah keduanya ketempat tersebut. mereka meneruskan kerjanya sambil mengipaskan lengan baju mereka kebadannya karena kepanasan. “Tapi di sini masih mendingan dari pada kamar yang tadi kita tempati, gak ada anginnya sama sekali”. Ahmad memulai kesunyian. “Assalamu alaikum” suara kecil, lembut terdengar dari arah pintu. Ternyata dia adalah Maimunah, cewek yang suka ngomel namun giat bekerja. “Wa alaikum salam” mereka menjawab. Maimunah akhirnya dipersilahkan duduk oleh Mahmud. Dia duduk disebelahnya, agak jauh dari tempat Ahmad duduk. Maimunah juga langsung akrab sama Mahmud, kebetulan keduanya sama-sama dari padang, akhirnya nyambung. Sementara Ahmad sendiri hanya diam konsentrasi sama kerjanya. Dia emang tidak banyak bicara. Tiga menit kemudian mereka semua berkenalan, ngobrol sambil bekerja.

setengah jam kemudian Mahmud sama Ahmad istirahat dan memerintah Maimunah agar meneruskan kerjanya sebagai sangsi atas kerterlambatannya. Maimunah hanya tersenyum sambil ngomel “Kak aku pingin cepat pulang”. Kata inilah yang sering dia lontarkan di saat dia lagi bekerja. Ada mungkin seratus kali dia mengulanginya. “Assalamu alaikum” terdengar suara lagi di arah pintu, suara yang merdu lembut dan manis. Ternyata dia adalah Murniati, cewek bercadar yang ulet dan fokus dalam bekerja.

Akhirnya mereka semua berkenalan dan berpasang-pasangan. Maimunah sama Mahmud, Murniati sama Ahamad. Murniati adalah anak Kalimantan, namun pernah nyantri di salah satu pesantren di Madura, yaitu di Sumenep. Dia juga kelihatan sopan dan tak banyak bicara, berbeda dengan Maimunah.

Ahmad terus bekerja, dia merunduk seakan dia bekerja sendirian, dia seperti tidak merasakan kalau didekatnya ada Murniati. Murnniatipun juga begitu, dia diam sambil bekerja. Tak selang beberapa menit Ahmad memulai pembicaraan memperkenalkan dirinya.

‘Murniati kamu asli mana”, Ahmad bertanya. “Aku orang Kalimantan”, Murni menjawab. “Tapi aku pernah di Madura bahkan sering keliling Madura”, melanjutkan jawaban. “Ah kebetulan kalau gitu. Aku orang Madura”, Ahmad menimpali. Akhirnya keduanya jadi nyambung dan suasanapun Nampak rame. “Berarti kamu tahu Air Mata(salah satu tempat bersejarah di Madura), Saikhana Khalil(salah satu ulama’ terkenal di Madura?”, Murni bertanya. “Kalau kiyai Khalil aku tahu, kalau Air Matanya aku tidak tahu” begitulah Ahmad menjawab. Murni akhirnya ketawa agak ngeledek “Masak orang Madura gak tahu, aku lo orang jauh banyak sekali tahu daerah yang dimenati banyak orang, dasar”. Ahmad hanya diam tak menggubris Murni, entah dia merasa diledeki atau tidak, namun wajahnya Nampak biasa-biasa saja. “emang kamu gak pernah jalan2 ya?”, Murni melanjutkan pertanyaan. “Aku gak pernah jalan-jalan jauh kecuali ke Mesir”, begitulah Ahmad menjawab dengan kejujuran dan ketulusan.

Selesailah mereka bekerja, tinggal langkah selanjutnya, yaitu nempelin setiap lukisan ke bagroun lukisan, yaitu di hari berikutnya, hari Jum’at pas waktu acara pelatihan, kebetulan acaranya mau dimulai jam dua, jadinya lukisan rencananya mau ditempel jum’at pagi. “Nanti jam Sembilan kita kumpul di PPMI dan berangkat bareng ke Konsuler(tempat acara di daerah Madrasah”. Mahmud ngasih interuksi. Mereka akhirnya bubar dengan membawa pikirannya masing-masing. Ahmad terlihat lemas dia nampak capek, ma’lum seharian dia bekerja tanpa istirahat, dia turun dari lantai atas dengan lamban, kebetulan Murni ada pas di depannya berjalan agak lamban juga, ma’lum dia cewek yang rata-rata jalannya lamban. “Aduuh HP aku mana ya”, Murni berucap sendirian menoleh ke Arah Ahmad sambil memegang setiap saku tas mencari HPnya. “Mungkin ketinggalan di atas”, Ahmad bersimpati, entah karena ada tujuan atau atas nama kemanusiaan. “Kalau di atas biar aku yang ngambilan”, menawarkan perhatian. “Gak kak ini ada”. Murni diam di tempat di depan Kantor PPMI dia seperti menunggu seseorang. “Nungguin siapa Mur?”, Ahmad menyapanya kembali. “Ini ada temen mau pulang bareng, mbak aku”. Murni menjawab. Akhirnya kedua diam mematung, Ahmad menjadi salah tingkah dia tidak tahu apa dia harus pulang sendirian atau bareng Murni. Akhirnya dia memutuskan pulang sendirian, dia pulang tanpa-tanpa kata-kata terucap kembali ke Murni, dia hanya berjalan melanjutkan perjalanannya.

Tepat hari Jum’at jam Sembilan Ahmad sama Mahmud sudah ngumpul di PPMI, keduanya bergegas menuju tempat kerja yang kemarin, kebetulan semua lukisan masih ada ditempat tersebut, keduanya duduk santai sambil nunggu Murni sama Maimunah datang, mereka maunya masang lukisan secara bersama. Sepuluh menit kemudian Murni datang sendirian dia langsung duduk di sebelah Ahmad. “Siapa namanya kak, aku lupa”, Murni menghapus keheningan. “Ahmad aku Ahmad, kamu bisa manggil Mad atau siapa aja terserah kamu”, Ahmad menjawab. “Eh aku keluar dulu ya, mau ketemu ketua panitia”, Mahmud pamitan sama Ahmad. Akhirnya tinggal dua pasang yang ada di tempat tersebut, keduanya diam sambil nempelin setiap lukisan, kebetulan Murni bagian yang ngupas lukisan dan Ahmad yang menempelkan. “NI Mad tempelin” Murni mengulurkan tangannya ke Ahmad, Ahmadpun mengambilnya, akhirnya tangan mereka berdua bersentuhan. “Astagfirullah”, Ahmad bergumam reflek. “Kenapa Mad” Murni menimpali. “Gak pa2 kok”, Ahmad menjawab.

Semua berjalan bagai alur air, kini Ahmad sudah tidak gugup lagi, dia sudah berani memandang gaun cadar Murni, Murnipun juga begitu. Kini keduanya saling memandang, entah apa yang mereka rasakan, tak selang kemudian Ahmad menundukkan kepalanya, mungkin dia tidak kuat memandang ketajaman mata Murni, dia salah tingkah. “Mad kok dipasang di situ?, itu salah Mad”, Murni menegor keteledoran Ahmad, salah memasang letak tulisannya. “Astagfirullah, ia Mur, tugas kamu tu perbaiki”, Ahmad memerintah sambil tersenyum. “Dasar Ahmad” Murni bergumam. Murni orangnya emang ceplas ceplos, Ahmad hanya tersenyum dia seperti merasakan kedekatan dengan sikap Murni. “Ia maaf dech maaf”. Ahmad beralasan. “Mad sudah selesai”. Mahmud datang menyapa mereka berdua, merusak canda mesra dari keduanya. Sepuluh menit kemudia ketua panitia datang memerintahkan mereka semua berangkat ke KOnsuler merampungkan semua pekerjaannya di sana.

Merekapun berangkat. Di sana mereka menyelesaikan tugasnya. “Mad kamera digitalnya udah diminta ama Bapak Presiden”, ketua panitia bertanya. “Sudah, ni aku taruh di tas” ,Ahmad menjawab. Ya itulah salah satu tugas dari Ahmad. “Nanti kamu foto kita semua ya”, ketua melanjutkan perintahnya. “Ia pak” Ahmad menjawab dengan mantap

Tepat jam dua acara dimulai, mereka sudah kebagiannya masing-masing, para anggotapun datang satu-persatu. Ahmad sudah mulai memotret semua apa yang perlu dia potret, Mahmud duduk kelelahan, kerjanya sudah selesai, jadinya dia istirahat. Sementar Murni sama Maimunah membantu salah satu temannya di bagian penerima tamu, duduk dibangku regestrasi. Ahmad berjalan mengelilingi lokasi sambil motret, acarapun sudah dimulai, Ahmad juga sudah gak bisa ngomong-ngomong lagi sama Murni, karena dia sibuk dengan kerjanya, dia juga merasa gak enak ngomong ama cewek di depan kerumunan banyak orang.

Namun dibalik kesibukannya Ahmad menyempatkan diri memperhatikan Murni, dia memandangnya dari kejahuan, murnipun juga begitu. Ahmad jadi sedikit ke GRan dia merasa ada jawaban dari lubuk hatinya walaupun dengan bentuk yang masih belum jelas. Ahmad berjalan menghampiri temannya di depan pintu, dekat Murni duduk, dia berdiri sambil memotret pemateri dari kejahuan. “Mad aku pulang dulu, aku laper, nanti aku balik lagi”. Murni menyapa Ahmad, diapun terkejut. “Mau pulang? Silahkan” Ahmad menjawab memberi izin dengan gaya ketua panitia.

Setelah kepulangan Murni Ahmad nampak lemas, dia seperti kehilangan pijakan, dia duduk berhenti memotret, dia seperti orang yang kecapean, nafasnya terdengar kenceng. “Kenapa Mad”, Mahmud menyapanya, kebetulan dia duduk di sisi Mahmud. “Gak pa2 Mud”, Ahmad menjawab. “Punya nomernya Murni gak”, Ahmad bertanya dengan nada gugup. “Ada tapi aku gak punya pulsa”, Mahmud menjwab, Mahmud merasa kalau Ahmad menyuruhnya agar Murni di telpon. “Gak apa aku Cuma minta nomornya aja” Ahmad menjawab. Akhirnya dia mengasihkan nonya Murni ke Ahmad. Sepuluh menit kemudian Ahmad menelpon Murni. “Mur kamu lagi dimana, balik ya”, Ahmad ngomong di telpon. “Ni siapa ya, ia aku balik kok” Murni menjawab via telpon. “Aku Ahmad” Ahmad menjawab sambil mengahiri pembicaraannya.

Murni kini sudah datang ke lokasi dia nampak anggun sekali. “Gimana ya seandainya dia mau membuka cadarnya, sekali aja, untuk aku”, Ahmad bergumam dalam hati, dia sepertinya memang benar-benar suka sama Murni.

Acara sudah selesai, mereka semua sudah pulang, panitaipun juga sudah pulang. Tinggal Ahmad, dia masih dijalan, menunggu bus, lima menit kemudian bus datang, Ahmad pun bergegas menaikinya. Sampailah dia ke rumahnya.

Di rumah Ahmad ngelepas baju, menghidupkan kipas angin, dia memegang HP sambil tidur-tiduran, dia ngelihatan nomor Murniati terus menerus, sepertinya dia sudah kena racun cinta. Semua berjalan seadanya waktupun juga terus berjalan, mereka berdua saling sms satu sama lain, kadang Ahmad juga menelpon. sudah tujuh hari mereka berpisah.

“Tujuh hari aku mengenal mu, tujuh hari pula aku memikirkan mu, kini aku hanya bisa berbaring di tempat tidur memeluk HP mungilku. Ada rasa yang menderaku, menusuk disetiap lapisan hatiku. Rasa itu belum bisa ku pastikan sebagai cinta, karena aku baru mengenal mu, aku juga belum tahu wajahmu, tapi rasa itu memang ada dan menyiksa. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah ini, namun maafin aku harus jujur pada mu. Aku mohon tidak ada orang yang tahu dari sms ini walaupun orang terdekat mu”, terkirim sms Ahmad kepada Murni.

Demikian Ahmad mengungkapkan perasaannya kepada Murni. Ahmad punya pandangan dalam bercinta, dia menganggap bahwa setiap perasaan harus cepat diungkapkan, apalagi perasaan cinta, dia menganggap bahwa menahan cinta berarti meracuni diri agar mati perlahan-lahan, karena itu dia cepat-cepat mengungkapkan perasaannya, dengan waktu yang agak singkat.

Kini Ahmad berbaring lemas dekat HPnya menuggu jawaban datang dari Murni, Murnipun juga tak cepat-cepat member jawaban, entah apa yang dia pikirkan. “Apa dia mau ke aku?” itulah kata Tanya yang sering keluar dari mulut Ahmad, dan………………..bersambung……..?

Peran Abi Hanifah Dalam Teologi Al-Maturidy

Al-Maturidiyah adalah salah satu dari sekte islam yang didirikan oleh Muhammad Bin Muhammad Bin Mahmud yang masyhur dengan panggilan Abu Manshur al-Maturidi, nisbat pada tempat kelahirannya, yaitu maturid, yang masih termasuk daerah Samarqondi. Sekte ini disebut sekte yang mayoritas, karena komunitasnya yang banyak dibanding komunitas sekte lainnya. Abu Mu’in al-Nasafy menyebutkan bahwa mahzhabnya al-Maturidi tersebar di daerah Bukhara sampai ke Turki, beliau juga menyebutkan bahwa mahzab al-Maturidi tersebut kebanyakan digandrongi oleh para sufi, bahkan salah satu ulama’ kontemporer, Ahmad Abduh membangun pemikirannya yang baru berdasarkan mahdzab al-Maturidy tersebut. makdonal mengatakan: “Ulama’ yang mengakui dirinya Asy’ariyah sebenarnya bermahzab Maturidiyah”. Perkataan Makdonal tersebut diiakan oleh para ulama’ Mesir setelah mereka membandingkan antara pendapat Muhammad Abduh dan al-Maturidi tersebut.

Sekte ini juga disebut sekte Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, karena pemikirannya yang moderat yang lebih mendekati manhaj yang dibawa oleh ulama’ Salaf. Maka karna itu bila kata Ahli Sunnah Wal Jama’ah disebutkan maka yang dimaksud adalah Asy’ariyah atau al-Maturidiyah.
Profil Pendiri Al-Maturidy

Beliau adalah Muhammad Bin Muhammad Bin Mahmud yang Masyhur dengan Abi Manshur al-Maturidi. Beliau lahir di Maturid, salah satu daerah yang masih termasuk bagian dari Samarqondi. Adapun mengenahi tanggal atau tahun kelahiran beliau, belum ada kejelasan yang pasti, tetapi secara dhohir beliau lahir sekitar pertengahan abad ke tiga, semasa dengan Abu Hasan al-Asy’ari, dimana sekte Mu’tazilah pada saat itu sedang mendapat perilaku yang tidak baik dari masyarakat sebagai balasan ketidak sewenang-wenangannya terhadap para ulama’ hadis dan fikih dimasa sebelumnya.
Beliau belajar fiqihnya imam Hanafi dan Ilmu kalam pada imam Nashruddin Bin Yahya al-Balkhy yang meninggal pada tahun dua ratus enam puluh delapan(268). Beliau al-Maturidi wafat pada tahun 333.

Beliau juga lahir dilingkungan akademisi. Daerah beliau semarak dengan aktivitas-aktivitas keilmuan, seperti perdebatan seputar Fiqih dan Usul Fiqih yang terjadi antara Mahzab Syafi’ie dengan mahzab Hanafi. Disana juga terdapat perdebatan seputar Ilmu Kalam, akibat ketegangan yang terjadi antara Fuqaha’ Muhaddis dan Mu’tazilah. Bahkan diceritakan bahwa kemajuan daerah beliau itu bukan karena ekonominya atau kekuatan militernya, tetapi karena prestasi keilmuan yang diraihnya pada saat itu, yang diprakarsai oleh para pemikir-pemikir ulung, termasuk beliau sendiri. Diceritakan bahwa konon beliau sering menghadiri perdebatan di Bashrah seputar ilmu kalam, bahkan diceritakan sampai sebanyak dua puluh kali. Dari sisi mahzab, beliau bermahzab Hanafi, yaitu satu-satunya mahzab yang nantinya banyak mempengaruhi alur pemikirannya, terutama dalam masalah ilmu kalam.
Alur Pemikiran Abi Manshur al-Maturidy

Islam telah memasuki Negara Hurasan dan Paris dan menguasai setiap tempat di Iraq. Banyak sekali pembesar-besar Negara-negara tersebut yang tertangkap, kemudian dijadikan budak. Zuthai adalah salah satu pembesar tersebut. beliau dari Paris kemudian beliau dimerdekakan dan mendapat hidayah untuk memeluk Agama Islam. Beliau pernah bertemu dengan Imam Ali RA, bahkan ngumpul lama dengannya, antara keduanya terdapat ikatan persaudaraan yang kuat, terbukti dengan hadiah yang pernah diberikan Imam Ali pada beliau. beliau kemudian mempunyai seorang anak bernama Tsabit, anaknya tersebut juga dekat dengan Imam Ali sama seperti beliau, bahkan Imam Ali pernah mendoakan Tsabit tersebut agar semua keturunannya mendapat berkah dari Allah. Maka lahirlah Nu’man putra Tsabit.

Nu’man adalah orang Faqih di masanya, sampai beliau dapat Nobel dari para ulama’ di masanya “Faqihul Islam”, imam Syafi’ie berkata “Semua manusia dalam Fiqh berhutang budi sama Abi Hanifah”. Beliau lebih terkenal dengan Abi Hanifah, sebagai Alam Kuniyah beliau. Beliau dilahirkan tahun 80 H dan meninggal tahun 150 H, tahun kelahiran Imam Syafi’ie. Irak tempat lahir beliau merupakan tempat peradaban semua agama. disitu juga banyak sekte-sekte islam, seperti Hawarij, Syi’ah DLL, disitu juga tempat singgah para sahabat, seperi Imam Ali, Abdullah Bin Mas’ud namun beliau tidak menututi mereka, tapi beliau menututi Imam Sufyan al-Tsauri, karena itu beliau masih termasuk Tabi’in. Beliau adalah pendiri mahdzab Hanafy.

Terkait Ilmu kalam Ulama’ ada yang pro ada juga yang kontra, mereka yang kontra sangat membenci Ilmu Kalam, karena ilmu tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Terkait dengan Abi Hanifah sendiri dalam Ilmu Kalam, ada dua posisi, pertama. Diawal-awal menuntut ilmu, beliau mempelajari ilmu kalam, hingga mahir membedanginya. Beliau juga banyak berdialok dengan sekte-sekte islam di masanya, seperti Hawarij Mu’tazilah dan Syi’ah. Beliau pernah berkata: “Semuga Allah membunuh Shafwan Bin Jahm dan Muqatal Bin Sulaiman, dikarenakan keterlaluan menafikan sifat Allah(Shafwan Bin Jahm), dan menetapkan sifat Allah, sampai pada pentajsiman(Muqatil)”. Perkataan beliau ini adalah bukti posisi beliau dalam ilmu kalam. Kedua, beliau sangat menentang keberadaan Ilmu kalam, bahkan sampai melarang untuk mempelajarinya. Beliau berkata:

“Aku menganggap Ilmu Kalam sebagai ilmu yang paling utama, kemudian aku berfikir dan merenung, dan aku berkata bahwa orang-orang dahulu dari para Sahabat dan Tabi’in lebih tahu dan paham dari pada aku, tapi mereka tidak bertentangan juga tidak berdebat, bahkan tidak mau berbaur dengan Mujadil, mereka duduk belajar dan mengajar. Setelah aku tahu ihwal mereka, maka aku katakan bahwa aku akan meninggalkan perdebatan dan kembali mengikuti mereka, ulama’ salaf, mengikuti semua tuntunannya. Dan sekarang aku berpandangan bahwa orang yang berdebat sepeutar ilmu kalam bukan termasuk dari bagian orang-orang terdahulu dan tidak mengikuti tahariqah ulama’ dahulu. Aku melihat mereka Mujadil termasuk orang yang hatinya keras, tidak perduli bahwasanya mereka telah menyalahi al-Qur’an, dan Sunnah dan tidak termasuk orang yang takwa”.

Ada banyak risalah-risalah kecil yang telah dinisbatkan para ulama’ sebagai karangan Abi Hanifah dalam maudu’ Ilmu Kalam, seperti Fiqhul Absath, Fiqhul Akbar Al-Alim Wal Muta’allim dan Risalah beliau pada al-Batta. Imam Ibnu Nadim menyebutkan bahwa ada empat kitab yang sah dinisbatkan sebagai karangan Abi Hanifah. Fiqhul Akbar, Al-Alim Wal Muta’allim, Risalah beliau pada Al-Batta dan Al-Raddu ala al-Qadariyah.
Al-Fiqhul Akbar/Absath

Kitab ini sangat diminati ulama’-ulama’ setelah beliau, kitab ini juga diriwayatkan banyak orang yang antaranya adalah Hammad anak Abi Hanafah sendiri, disyarahi oleh Ali al-Qary. Kitab ini juga diriwayatkan oleh Abi Muthi’ al-balkhy yang ma’ruf dengan Fiqhul Absath, kemudian disyarahi oleh Abu al-Laits al-Samarqandy. Syarah-syarah kitab Fiqhhul Absath ini ada yang dinisbatakan pada beliau Abi Hanifah, tapi tidak dibenarkan. Terkait dengan penisbatan kitab ini pada Abi hanifah Abu Zahrah berkata: “Fiqhul Akbar ini perlu ditunjau kembali kalau harus dinisbatakan pada Abi Hanifah”. Bahkan orang yang sangat fanatik terhadap beliau juga tidak mengesahkan kitab diatas kalau harus dinisbatkan pada beliau.

Risalah-risalah diatas walaupun ada sebagian yang masih disangsikan penisbatannya pada Abi Hanifah merupakan bukti bahwa beliau pernah sibuk mempelajari Ilmu Kalam tersebut, dan risalah-risalah ini jugalah yang mempengaruhi pemikiran Abi Manshur al-Maturidy, bahkan sebagian ulama’ mengatakan bahwa pendapat Abi Hanafah adalah dasar awal berdirinya mahdzab al-maturidy.

Risalah-risalah di atas beliau riwayatkan melaluhi para gurunya seperti Nashiruddin Bin Yahya Al-Balkhy, Abi Nashir Ahmad Bin Abbas dan Ahmad Bin Ishak al-Jurjani, yang semuanya meriwayatkan dari Abi Sulaiman Musa al-Jurjani Murid Muhammad Bin Hasan al-Syaibany dari Abi Hanifah. Maka Nampak jelas alur pemikiran al-Maturidy tersebut, hingga bisa dikatakan bahwa beliau adalah Abi Hanifah kedua setelah Abi Hanifah, dan tidak sah pula pemetaan yang dilakukan sebagian ulama’ yang mengatakan bahwa beliau dalam sisi Fiqih memang terpengaruh Abi Hanifah namun dari sisi teologi beliau lebih mendekati Al-Asy’ari atau Hambali, bedasarkan risalah-risalah di atas.

Qadiyah-Qadiyah yang dicetuskan oleh Abu Hanifah juga dapat mewakili pengesahan alur pemikiran pemikiran al-Maturidy, seperti dalam konsep Iman, Penilai Kebaikan dan kejelekan. Keduanya sepakat bahwa Iman itu tidak bertambah dan tidak bisa mengurang, kebaikan dan kejelekan mungkin untuk diketahui dengan akal, dan masih banyak yang lainnya.
Manhaj Yang Dipakai al-Maturdy

Bersandarkan akal dalam berfikir merupakan perkara yang dianjurkan oleh agama, terutama dalam masalah Aqidah dan yang berhubungan dengannya. Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang mengiakan penganjuran tersebut bahkan sampai empat puluh Sembilan ayat. Al’-qur’an juga sangat mengecam orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya, sebagaimana dalam surat al-Imran ayat 179. Dari sinilah manhaj al-Maturidy terlahir. Beliau mengatakan bahwa kewajiban ma’rifat pada Allah mungkin untuk diketahui dengan akal, sebagaimana yang telah Allah sendiri perintahkan agar kita berfikir tentang cipataanNYA, beliau juga mengatakan bahwa menafikan akal berarti tidak mengindahkan perintah Allah,”Berfikir”. Namun walaupun akal lebih punya peran dominan dalam mahzab beliau, beliau tetap akan tunduk terhadap kebedradaan Naql bila antara keduanya saling bertentangan. Beliau berkata Naql dan akal adalah dua sumber dalil yang tidak boleh dipisahkan satu sama yang lain. disinilah letak perbedaan mahzab beliau dengan Mu’tazilah. Abu Zahrah mengatakan dalam kitabnya Tarikhul Madzahib al-Islamiyah bahwa pemikiran al-Maturidy lebih mendekati pemikiran Mu’tazilah, sama dengan yang dikatakan Imam al-Kautsari “Asya’irah ada diantar Mu’tazilah dan Muhadditsin, sedangakan al-Maturidiyah ada diantara Mu’tazilah dan Asy’irah”. Perkataan ini jugalah yang melemahkan bahwa pemikiran beliau sealur dengan pemikiran al-Asy’ary walaupun banyak sekali kesamaan qadiyah-qadiyah yang dicetuskan oleh keduanya.
Antara Al-Matridy, Asy’ari Dan Mu’tazilah

Akal yang lebih dominan dalam manhaj al-Maturidy, namun masih tunduk pada Naql, berbeda dengan Mu’tazilah yang menafikan Naql ketika keduanya bertentangan, kebalikan al-Asy’ari yang lebih mengunggulkan Naql walaupun tidak menafikan akal. Perbedaan manhaj ini berimbas pada perbedaan sebagian qadiyah-qadiyah ushuliyah yang dicetuskan mereka yang nanti akan penulis sebutkan sebagiannya saja. Ada sebagian ulama’ yang menyebutkan bahwa perbadeaan yang terjadi antara al-Maturdy dan Asy’ari berkisar antara sepuluh masalah.
Ma’rifat Pada Allah

Al-Maturidy mengatakan bahwa kewajban ma’rifat pada Allah mungkin untuk diketahui dengan akal, namun beliau tidak mengatakan bahwa wajibnya ma’rifat tersebut adalah dengan akal, karena wajib menurut beliau adalah hukum taklifi yang menjadi otoritas sang pencipta(Syare’), senada dengan yang dikatakan Mu’tazilah, bedanya adalah pememegang otoritas. Mu’tazilah mengatakan bahwa yang memngang otoritas adalah akal sementara al-Maturidy adalah syare’. Sementara al-Asy’ary mengatakan bahwa Ma’rifat tersebut hanya menjadi otoritas syare’.
Penilai Kebaikan Dan Kejelekan

Sekte Mu’tazilah mengatakan bahwa penilai kebaikan dan keburukan adalah akal. Dikarenakan dalam setiap sesuatu terdapat unsur kebaikan dan kejelekan secara dzaty. Konsekwensi dari pemikarannya tersebut mereka mengatakan bahwa Ahli Fathrah(orang yang hidup dalam priode penantian datangnya seorang utusan)kelak akan disiksa atas segala amal baiknya dan dikasih pahala atas segala kebaiikannya. Senada dengan apa yang diungkapakan al-Maturudy, hanya bedanya beliau tetap akan patuh dengan Naql ketika akal beliau menyalahi keberadaan Naql tersebut, konsekwensinya Ahli Fathrah di atas kelak tidak akan disiksa, dan urusannya hanya sama Allah. Sementara al-Asy’ari mengatakan bahwa hak penilai kebaikan hanya otoritas Syare’. Kebaikan adalah kebaikan yang dilegalkan Syare’, begitu juga kejelekan, bukan yang dilegalkan akal.
Pekerjaan Allah

Al-Asy’ari mengatakan bahwa Allah mengerjakan sesuatu bukan karena dilatar belakangi motivasi atau tujuan, karena Allah adalah dzat yang tidak bisa ditanya akan apa yang ia kerjakan. Berbeda dengan Mu’tazilah yang mengatakan bahwa setiap pekerjaan Allah pasti dilatar belakangi motivasi dan tujuan, karena Allah adalah dzat yang bijaksana, yang mana tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tiada guna, karena itu Allah wajib untuk berbuat baik pada manusia. Sama dengan yang dikatakan al-Maturdy, hanya bedanya beliau tidak mewajibkan Allah untuk berbuat baik. Dan masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang terjadi antara tiga sekte di atas, seperti masalah Iman, pendosa besar DLL.

Dan bila kita mau meneliti setiap pendapat al-Maturdi maka anda akan menemukan keserasian pendapat beliau dengan Imam Abu Hanifah, karena itu beliau pantas menyandang gelar “Abu Hanifah kedua setelah Abi Hanifah”. Wallahu a’lam bi al-Shawab

Referensi:
1. Sa’id Ramadhan al-Buty, Al-Madzahib al-Tauhidiyah
2. Abu Zahrah. Tarihul Madzahib al-Islamiyah
3. Duktur Abudul Fattah al-Magraby, Al-Firaq al-Kalamiyah al-Islamiyah Madkhal wa Dirasah

Kitab Salafiyah Wahhabiayh

Mungkin sering terbenak dalam pikiran kita rasa penasaran akan esensi pemikiran sekte Salafi, yaitu wujud pertama dari sekte Wahhabi. Apakah mereka memang benar-benar Salafi yang pemikirannya salaf, sehingga masuk dalam kategori Ahli Sunnah Wal Jama’ah? atau hanya sebuah aliran yang mengusung pemikiran tertentu?.

Kitab inilah yang akan menjawab unek-unek dalam benak anda, yaitu kitab yang dikarang Syeh Hasan bin Ali al-Siqaf, yang tebalnya kira-kira 158 lembar. Kitab ini cukup bagi kita untuk mengetahui siapa itu Salafi atau Wahhabi yang sebenarnya, karna kitab ini mengungkap semua pemikiran sekte tersebut dan tindak tanduknya. Kitab ini timbul dari hasil penelitian yang bisa dipertanggung jawabkan.

Bagian-bagian terpenting dalam kitab Salafiyah al-Wahhabiyah


Dalam kitab ini dijelaskan bahwa Wahhabiyah adalah Salafi itu sendiri, yang pemikirannya adalah pemikiran baku, turun temurun dari bapak mereka, yaitu imam Ibnu Taimiyah, dan muridnya Ibnu Qayyim al-Jauziyah, kemudian diteruskan oleh Muhammad Abdul Wahhab.
Dalam kitab ini juga dijelaskan bahwa Wahhabi atau Salafi adalah adalah satu-satunya sekte yang menganggap pemikirannya paling benar, sehingga pemikut sekte ini melirik sebelah mata pemikiran aliran sekte lain, bahkan pemikiran sekte lain yang menyalahi pemikiran mereka dianggap bid’ah dan macam-macam tuduhan yang lain.

Dalam kitab ini juga dijelaskan bahwa mereka punya banyak cara dalam menyebarkan pemikirannya, seperti mendirikan majlis ta’lim yang mereka aplikasikan dengan membangun, Masjid, Madrasah yang mana nanti system pengajarannya memakai kurikulum yang murni pemikiran ala mereka.

Dan diantara model penyebaran pemikiran mereka adalah menyiwa orang untuk menta’liq atau menyarahi kitab-kitab turats dengan memberi batasan pena’liq dan penyarah hanya pada pemikiran mereka, hingga ada sebagian penaklik atau penyarah yang sampai mengubah teks judul sebagian kitab yang dita'liq atau disyarah tersebut, seperti kitab al-Adzkar dalam bab Ziyaratu al-Qubur yang mereka ganti dengan bab Ziyaratu Masjidi al-Haram, hal ini dikarnakan mereka termotivasi dengan hukum akan tidak bolehnya Ziyarat Kubur yang dicetuskan oleh sebagian imam-imam mereka.

Dalam kitab ini juga dijelaskan bahwa mereka banyak mendirikanperpustakaan yang di dalamnya hanya berisi kitab-kitab pemikiran mereka, atau mendirikan percetakakan di berbagai lapisan Negara yang mereka batasi dengan karangan-karangan baru yang mendukung pemikiran mereka. Sementara bila ada penulis yang mengajukan karangan dengan pemikiran yang berlawanan mereka tidak untuk menerimanya.

Di antara lagi model penyebaran pemikiran mereka adalah mendirikan jam’iyah-jamiyah yang terbentuk dalam kajian ke agamaan atau partai politik dan Partai Keadilan Sejahtera(PKS) yang sekarang berada di negri kita, Indonesia.